Sinus atau Cosinus?

18 November 2009 Leave a comment

Sebagian mahasiswa semester awal masih mengalami kesulitan dalam menentukan besar sudut dalam uraian gaya-gaya yang bekerja pada sebuah bidang miring. Karena kesulitan tersebut, mahasiswa tidak dapat menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan Hukum Newton pada bidang miring. Untuk memudahkan memahami uraian gaya pada bidang miring, kita dapat berpedoman pada gambar berikut ini.

Untuk memastikan besar sudut antara komponen-komponen gaya tersebut, kita memindahkan vektor-vektor gaya yang bekerja pada titik P sehingga berada tepat pada titik R. Kita dapat melihat pada titik R bahwa sudut antara garis merah dengan garis AB adalah 90 derajat. Jadi sudut antara garis merah dengan garis BR adalah (90-θ) derajat. Kemudian, sudut antara garis biru dengan garis BR adalah 90 derajat. Dengan demikian sudut antara garis biru dengan garis merah adalah 90-(90-θ) derajat = θ.

Jadi besarnya gaya yang bekerja pada garis hijau sama dengan mg sin θ, dan besarnya gaya yang bekerja pada garis merah sama dengan mg cos θ.

Korelasi negatif, bukan kesalahan data

25 September 2009 Leave a comment

Pada umumnya mahasiswa yang melakukan penelitian kualitatif selalu mencari-cari hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk itu dia merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut (misalnya): “Ada hubungan anatara variabel X dengan variabel Y“, atau “Ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y“.

Si peneliti mulai mengumpulkan data dengan mengukur variabel X dan variabel Y dari sejumlah populasi atau sampel. Kemudian mencari nilai korelasi antara kedua variabel tersebut. Jika korelasinya positif, peneliti akan merasa sangat puas. Sebaliknya jika hasil perhitungannya menunjukkan korelasi yang negatif, maka dia mulai meragukan penelitiannya sendiri. Biasanya dia melakukan pengkajian ulang terhadap langkah-langkah perhitungan (kalau pengolahan data dilakukan secara manual). Kalau pengolahan data dilakukan dengan program SPSS misalnya, dia akan berhenti sejenak dan mempertanyakan korelasi yang negatif itu – seringkali melupakan judul penelitian yang mungkin seharusnya berkorelasi negatif. Apabila seorang peneliti mendapati bahwa korelasi memang harus (boleh) negatif dalam kasus yang sedang diteliti, dia akan merasa sedikit terhibur dan melanjutkan proses penulisan hasil penelitiannya.

Hal yang paling sering terjadi adalah penulis mengharapkan korelasi positif antara variabel X dengan variabel Y, karena judul penelitian “kelihatannya” harus berkorelasi positif. Namun hasil perhitungan yang menunjukkan korelasi negatif, maka dia segera kembali ke data, jangan-jangan ada yang salah. Secara matematis, hal ini memang benar karena nilai korelasi diperoleh dari data. Cara yang paling cepat untuk membenarkan hipotesisnya adalah dengan mengubah data. Tidak ada yang tahu bahwa data telah diperbaiki, selain peneliti itu sendiri. Akhirnya disimpulkanlah bahwa memang “ada hubungan” atau “ada pengaruh”. Hasil penelitian seperti ini tidak akan memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Mengapa korelasi bernilai negatif?

Peneliti harus menyadari faktor apa yang menyebabkan korelasi menjadi negatif. Jangan langsung mengobrak-abrik data, karena data adalah manifestasi instrumen penelitian yang digunakan. Jika instrumen penelitian disusun tanpa menggunakan indikator-indikator variabel yang akan diukur, maka data yang diperoleh kemungkinan bukan mengukur variabel X melainkan mengukur variabel X1. Lebih parah lagi kalau yang terukur bukan variabel X melainkan variabel lain.

Instrumen penelitian yang baik, harus disusun berdasarkan indikator dari variabel yang akan diukur. Indikator itu sendiri tidak bisa ditentukan secara bebas, karena harus berpedoman terhadap hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya. Instrumen penelitian harus diuji validitasnya dari berbagai segi sebelum digunakan sebagai alat ukur yang baik. Kalau memerlukan pengolahan matematis (khususnya statistik inferensial), pilihlah teknik statistik yang sesuai. Choosing the Correct Statistical Test (CHS 627 University of Alabama).

Setelah indikator tersusun dengan baik, pengukuran dapat terlaksana dengan baik pula. Selanjutnya setelah pengukuran dilakukan, peneliti juga harus mempertimbangkan faktor lain dari segi responden. Ada responden yang memperikan jawaban jujur, ada juga yang tidak. Hal ini tidak bisa dihindari tetapi dapat diminimalkan dengan cara melakukan kalibrasi data (uji validitas). Ujia validitas dalam hal ini dimaksudkan untuk menyempurnakan instrumen penelitian melalui data yang diberikan oleh responden. Data yang tidak valid menghasilkan kesimpulan yang tidak valid.

Jadi, korelasi yang negatif bukan disebabkan oleh kesalahan data tetapi berbagai faktor. Korelasi negatif tidak berarti bahwa hasil penelitan atau data yang salah. Kesalahan lebih banyak diakibatkan oleh kesalahan pengukuran, kesalahan prosedur, atau kesalahan menganalisa data.

Categories: education

UKI Toraja mewisuda 215 wisudawan

4 September 2009 Leave a comment

Pada hari Jumat 4 September 2009, Universitas Kristen Indonesia Toraja mengukuhkan 215 orang sarjana melalui Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang dirangkaikan dengan  Dies Natalis ke-42. Kegiatan Wisuda dan Dies Natalis ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Rektor No. 55/UKI/Kep/IX/2009 tentang Lulusan Universitas Kristen Indonesia Toraja Semester Genap Tahun Akademik 2008/2009.

Dalam laporannya, Rektor UKI Toraja, Prof. Dr. Andreas T. Pongtuluran, M.Pd., menyampaikan bahwa wisudawan/wisudawati yang berjumlah 215 orang berasal dari 3 Fakultas dengan rincian sebagai berikut:

wisudawan0809

Dengan selesaikan masa studi para wisudawan tersebut maka jumlah mahasiswa yang aktif sampai dengan semester genap tahun akademik 2008/2009 adalah1780 orang, yang tersebut dalam 4 fakultas dan 9 jurusan/program studi sebagai berikut:

mhsaktif

Read more…

Categories: Info Kampus
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.